Dari angin yang menghembuskan nafas beku, sang junjungan bersinar merasuki kalbu, berpendar malam kelam dalam cahyanya, salahkah hati bila retak?
Bak kaca yang bening, rapuh dan luluh dalam fana, memang indah dan bermakna dalam citranya yang menembus hampa, namun bukankah bening tak sesuci itu?
Purnama itu takkan selamanya purnama, dan di bawah remang, sebuah lampu jalan jatuh dari tiangnya, kemanakah binar yang kulihat kemarin?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar