Pages

Sabtu, 21 Maret 2015

Talking To the Moon

Assalammu'alaikum wr.wb.

Selamat datang di pena bulu a quill pen blog :D
Karena bingung apa yang mau dipost pertama kali :3 jadilah ngubek-ngubek file sampe keringetan, (?) akhirnya nemu tugas Bahasa Indonesia aku waktu SMP!!
Jadi gini, waktu kelas 9 kan disuruh bikin cerpen, yah jadilah cerpen ini... yeeeeeee
Nggak usah panjang-panjang deh, langsung aja :D
anyway, waktu itu lagu ini lagi musim, makanya dijadiin cerpen, sori deh kalo rada-rada gaje gitu :D


Talking to the Moon


I know you're somewhere out there
Somewhere faraway
    Bulan, aku merindukannya.
I want you back
I want you back
   Bulan, aku ingin ia disini.
My neighbours think i'm crazy
But they don't understand
    Bulan, aku benar-benar gila.
You're all i have
You're all i have
    Bulan, dia pergi... 
* * *  
April
Malam ini purnama, rembulan bersinar terang di luar jendela kamar Gwen. Alunan merdu lagu Talking to the Moon yang dinyanyikan Bruno Mars pun diputar dengan headset di telinganya.
Sudah jam dua belas, mungkin para manusia serigala sedang mencari mangsa di luar sana, pikir Gwen.
Namun Gwen tak tergerak sedikit pun untuk tidur. Malam ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Malam ini, malam ketika bulan menguasai bumi dengan sinarnya. Akhir-akhir ini Gwen bersahabat dengan rembulan. Bulan-lah tempatnya bercerita dan berkeluh kesah. Bulan tak akan menggosip disana-sini, tak seperti teman-temannya kebanyakan. Apa saja Gwen ceritakan kepada bulan. Tentang orangtuanya, yang overprotective kepadanya. Tentang Koji, pacarnya yang keturunan Jepang. Tentang sekolahnya yang menyebalkan.
Yah, Gwen menceritakan segalanya kepada bulan, walaupun Koji tidak pernah meninggalkannya seperti dalam lirik lagu Talking to the Moon. Tetap saja rasanya asyik menikmati keheningan yang langka ini. Ditemani bulan.
Gwen menguap, sudah saatnya baginya untuk tidur.
Ia mematikan lampu kamarnya, memandangi bulan dengan lekat. Butuh waktu satu bulan untuk melihatnya bersinar seterang ini lagi.
Gwen menguap lagi, sembari menutup gorden ia berbisik. “Sampai jumpa, bulan...”

* * *
Mei
Gwen berjalan cepat di tengah hujan yang deras ini. Seragam sekolahnya basah karenanya. Tak jauh dibelakangnya Koji berlari-lari kecil.
“Gwen, sorry,” ujarnya. Gwen tak menoleh.
“Hey!” Ia memegang tangan Gwen, menariknya ke sebuah bangunan tua. Gwen meronta.
“Apa kau ingin kita bertindak dramatis dengan ngobrol di tengah hujan?” Koji berteriak, berlomba dengan bunyi guntur yang menggelegar.
Gwen melepaskan diri dari pegangan tangan Koji. Namun tidak melarikan diri. Biar masalah ini kuselesaikan dahulu, pikir Gwen.
“Yes?” Tanya Gwen menuntut jawaban.
“Aku akan kembali ke Jepang,”               
 “Aku sudah tahu, dan aku tahu dari orang lain,” Gwen memberikan penekanan pada kata 'orang lain'.
“Kurasa kau sudah menebaknya, kita...” Belum selesai ia bicara, Gwen memotongnya.
“Yap, kita putus, oke? Baiklah. Tapi aku yang resmi memutuskanmu, bukan kau,” Gwen tertawa hambar.
Koji menatap Gwen tajam, “licik,” gumamnya.
“Sudah kan? Oke bye, berbahagialah di Jepang.” Tanpa banyak kata lagi Gwen kembali menembus hujan.
                                                                                          * * *
Gwen memandang bulan, lagi. Sudah dua hari sejak kejadian itu. Dan kini telah purnama. Pagi tadi, Koji sudah tak ada lagi di sekolah.
Bulan, ia benar-benar meninggalkanku. Keluh Gwen.
Gwen dengan mudah bisa berakting seolah Koji hanyalah sampah dihadapan teman-temannya. Namun ia tak bisa tidak jujur dengan bulan.
Bulan, baru satu hari tanpa melihatnya. Aku hampa.                         
Talking to the moon..
Trying to get to you…
Refleks, Gwen menyanyikannya. Bagian reff dari lagu itu.

In hopes you're on the other side
Talking to me too
Or am i a fool
Who sits alone

Talking to the moon
Benar-benar seperti kisahnya. Gwen menangis. 
Bulan, kapan ia kembali?
Terdengar suara ketukan. “Gwen!” Ia mendengar ibunya memanggilnya. Gwen menghapus air matanya. Namun terlambat, Mom-nya telah membuka pintu kamar Gwen yang tak terkunci.
“Loh, Gwen!” Ibunya terkejut melihat Gwen. Gwen berpaling, tak menghiraukannya.
* * *

Juni

I'm feeling like i'm famous
The talk of the town
They say i've gone mad
Yeah i've gone mad
Seisi kelas sudah tahu kebiasaan Gwen sekarang. Mom bertanya tentang Gwen kepada Layla. Ia tak lupa bercerita tentang keanehan Gwen yang berbicara sendiri--menurutnya. Walau Gwen ngotot bahwa ia berbicara pada rembulan. Dan seperti yang bisa Gwen tebak. Layla menyebarkannya ke teman-teman sekelasnya. Namun Gwen tak peduli.

But they don't know what i know
Cause when the sun goes down
 Bulan, kau mendapatkan cahaya dari matahari, bukan?

Someone's talking back
Yeah they're talking back
 Ya.
Gwen selalu merasa bulan menjawabnya. Berusaha memupuskan fakta bahwa suara itu berasal dari pikirannya sendiri.
Bukankah Koji sekarang berada di Negeri Matahari Terbit? Katakan padaku, Bulan. Pesan ini darinya. Iya kan?
Ya.
Gwen mendengar suara itu lagi. Ia merasa agak nyaman. Perlahan ia memejamkan matanya.
* * *
Juli
Gwen tak bisa lagi melihat bulan. Kamarnya tak lagi sama. Ayah dan ibunya telah menyuruh orang untuk membuat jendelanya menjadi tembok. Gwen tak mungkin menghancurkannya hanya untuk melihat bulan. Namun Gwen yakin bulan tetap akan menyampaikan pesannya.
Koji, dengarkan aku. Bulan, beritahu Koji untuk mendengarkanku.
Tak ada jawaban.
Bulan, jawab aku!

Tak ada jawaban.
Gwen menjerit frustrasi. Mana mungkin Bulan juga meninggalkannya.
Terdengar suara langkah kaki Mom yang bergegas kekamar Gwen.
Bulan..
Gwen memanggil lemah. Ia dapat merasakannya, bulan ada dilangit. Namun bulan tak menjawabnya.  Pintu kamar Gwen terbuka.
Bulan, aku lupa mengunci pintuku, lagi.

Do you ever hear me calling?
Tangisan Gwen pecah. “Gwen...” Ibunya memeluk dan membelai rambut Gwen.
Ia menangis dipelukan Mommy-nya.
Mereka benar, aku telah gila. Bulan tak bisa berbicara. Bulan tak pernah berbicara padaku.
Gwen mencamkan kata-kata itu dalam hatinya.
                                                                                                * * *
Agustus
Gwen mencari-cari HP-nya di dalam tas. “Pasti ada,” gumamnya yakin. Akhirnya Gwen menemukan HP-nya, ia ingin menelepon ibunya. Ibunyalah sahabat terbaik Gwen kini. Namun sesuatu yang Gwen lihat di layar HP-nya mengurungkan niat Gwen untuk menelepon. SMS dari Jo.
Hai Gwen. Aku cuma pengen kasih tahu, kata temen-temen Koji bakalan kesini lagi bulan depan. Katanya sih.
Gwen tertegun. Setelah menghilangkan kegilaan ini. Apa aku harus melihat wajah Koji lagi? Tanya Gwen dalam hati. Koji mungkin sudah menggandeng orang lain sekarang.
Ia menggeleng. Sudah cukup. Semua tentang Koji, tak berarti apapun bagiku. Kata Gwen dalam hati. Gwen mengabaikan SMS Jo, bersikap benar-benar sudah move on.
Gwen menekan tombol hijau pada kontak ibunya. “Halo, Gwen?” terdengar suara Mom dari ujung sana.
Tetapi belum sempat Gwen menjawab, sesuatu terjadi.
                                                                                                * * *

September
Tubuh Koji bergetar. Namun ibu Gwen tetap meneruskan ceritanya.
“Ia selalu berbicara kepada rembulan tentang kau, seperti kehilangan akal. Baru pada akhir Juli ia menghilangkan kebiasaan buruknya itu. Dan tepat sebulan yang lalu, ia meninggal. Aku sempat mendengar suara terakhirnya. Ia meneleponku saat itu, aku mendengar bagaimana teriakannya. Bagaimana suara taksi yang ditumpanginya ditabrak mobil lain dari arah berlawanan...”
Ibu Gwen terisak. Ayah Gwen menepuk-nepuk punggungnya.
Air mata Koji tumpah. Padahal kedatangannya kembali ke Inggris sebenarnya bertujuan mencari Gwen. Cinta pertamanya. Koji tahu pilihannya salah, setelah gonta-ganti pacar. Hatinya tetap hampa karena Gwen tak ada disisinya. Koji menatap foto Gwen. Ia sudah melihat sendiri bahwa tak ada tanda-tanda Gwen disini. Ia sudah melihat makam dimana Gwen terbaring dibawahnya, menjadi onggokan bangkai tak berarti.
Dan hal itu membuat air matanya terus mengalir...
                                                                                       * * *
Malam telah tiba, Koji masih merenungkan cerita ibu Gwen plus tambahan sana-sini dari teman-teman Gwen. Koji benar-benar berharap Gwen akan kembali. Namun harapannya hanya sebelas dua belas dengan mengharapkan manusia serigala berkokok malam ini. Purnama ini.
Koji mengambil HP-nya. Ia ingat Layla bercerita kepadanya bahwa Gwen sering mendengarkan lagu Talking to the Moon saat bicara pada rembulan. Koji memutar lagu itu, mendengarkannya dengan khidmat. Lagu itu begitu menyayat hatinya.

“Seperti ini perasaanmu saat itu, bukan?” Koji bergumam, matanya tertuju pada secercah cahaya yang masuk ke kamarnya. Berharap cahaya itu akan menyampaikan pesan pada Gwen. Bahwa ia disini, untuk Gwen. Mencintai Gwen.
Koji memandangi bulan diluar sana, sumber cahaya itu. Air matanya tumpah lagi, lebih deras dari tadi siang. Ia terus memandangi bulan, sementara lagu Talking to the Moon masih terdengar di telinganya.
Bulan, titipkan maafku pada Gwen.

Sekarang Koji mengerti betapa sakit perasaan Gwen saat ia tinggalkan dulu.
“Maafkan aku, Gwen.” Koji berbisik, sekarang gilirannya berusaha berbicara pada Gwen yang telah tiada.
Pedih, Koji menyanyikan bait terakhir dari lagu itu.

I know you're somewhere out there
Somewhere faraway...




0 komentar:

Posting Komentar